Rabu, 29 April 2009

Makna Tuhan tidak beranak

Oleh : Armansyah
Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan menurut ajaran Islam adalah dalam pengertian maupun sifat seperti apapun. Islam tidak menyetujui konsep Inkarnasi dimana Tuhan bisa menjelma menjadi makhluk. Dalam ajaran Islam, Tuhan tidak pernah terlahir ataupun hadir dalam bentuk daging seperti yang didoktrinkan oleh ajaran Kristen terhadap Yesus Kristus.

Menyangkut penggunaan isitilah Wallad dalam bahasa al-Qur'an yang diterjemahkan sebagai anak biologis Tuhan, sebenarnya tidak menyimpang dari kenyataan yang berlaku didunia Kristen itu sendiri sehubungan dengan status Yesus.

Bahwa ayat-ayat Perjanjian Baru sendiri memberikan kesaksian tentang doktrin kedagingan Yesus sebagai bagian dari ilahiahnya adalah sebuah fakta yang membenarkan penggunaan istilah Wallad oleh al-Qur'an :

Mari kita baca Kisah Para Rasul 2:31 : "Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan".

Ketika kemudian ada pihak Kristen menyangkal bahwa penunjukan Allah dalam al-Qur'an terhadap adanya makna anak biologis terhadap Yesus oleh kaum Kristiani adalah sesuatu yang salah, maka secara otomatis orang-orang seperti ini telah mengingkari akan konsepsi ketuhanan dalam wujud daging yang diperanakkan oleh manusia (artinya daging diperanakkan oleh daging) yang lalu dagingnya itu sendiri kekal (tidak menjadi binasa).

Al-Qur'an sama sekali tidak bercerita mengenai adanya hubungan seksual antara Tuhan dengan Maria, bahkan dalam kasus awal dari kehamilan perawan suci itu sendiripun al-Qur'an memberikan kesaksian pula bahwa semua itu sama sekali tidak melibatkan Allah secara langsung, artinya al-Qur'an sebagaimana juga dengan ayat-ayat Perjanjian Baru, menceritakan bahwa hamilnya Maryam didahului oleh datangnya malaikat Jibril untuk menyampaikan apa yang sudah dikehendaki Allah kepadanya, yaitu mengandung tanpa adanya percampuran dengan laki-laki ( Parthenogenesis ), dengan demikian tuduhan bahwa al-Qur'an menganggap Maryam sebagai permaisuri Tuhan dan Yesus adalah anak biologis hasil persetubuhan Tuhan dengan Maryam sama sekali diluar konteks pembicaraan al-Qur'an yang benar.

Konsep "Kun Faya kun" didalam teologi Islam memiliki relasi jelas dengan hukum-hukum kausalitas yang berlaku sehingga segala sesuatunya terjadi dengan proses-proses yang alamiah sehingga dengan semua tahapan-tahapan panjang tersebut kehendak Allah tetap terjadi.

Baik Islam atau Kristen, keduanya tidak menolak doktrin kemahakuasaan Tuhan diatas segala-galanya, namun keduanya juga sepakat bahwa keberadaan Isa al-Masih atau Yesus diatas dunia ini melalui tahapan-tahapan persalinan dan kehamilan yang wajar oleh seorang wanita sebagaimana halnya wanita-wanita lain diatas dunia ini, begitupula misalnya dengan terjadinya alam semesta, kedua agama sepakat bahwa alam semesta tidak dijadikan Allah dengan sekali jadi tanpa adanya tahapan yang panjang.; Kedua contoh ini hanya segelintir dari fakta-fakta bahwa Tuhanpun dibalik doktrinal serba Maha-Nya tetap bermain diatas hukum-hukum alam yang Dia buat sendiri.

Maha Segala-galanya apakah bisa berarti bebas bertindak suka-suka tanpa ada keteraturan, tanpa ada keseimbangan dan tanpa ada tujuan serta hikmah pembelajaran dibaliknya ?

Kalau memang sesuatu itu sudah menjadi rencana Allah, maka pasti akan terjadi dengan sendirinya tanpa ada satupun yang bisa menghalanginya tanpa Dia sendiri harus bertindak suka-suka dengan doktrin kemaha kuasaan-Nya.

1 Korintus 14:33 Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan ...

Ini, adalah sesuatu yang make sense buat siapapun, dengan demikian maka semuanya menimbulkan satu pembelajaran kepada manusia terhadap nilai-nilai kebenaran, sebab kebenaran itu sendiri tidak mungkin sesuatu yang bersifat kacau dan tidak teratur.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 2 Timotius 3:16

Isa al-Masih dalam Islam disebut sebagai Kalimat Allah yang diberikan kepada Maryam. Ini tidak berarti bahwa Isa Al-Masih adalah sabda alias firman yang menjelma menjadi manusia dalam pengertian Tuhan mewujud kebentuk manusia melalui perawan maria.

Isa = Kalimat Allah adalah berarti kehadiran dan kelahiran beliau as sebagai ketetapan Allah terhadap Maryam ( surah 3 Ali Imron 45 )


Lebih jauh, dalam hal pembahasan istilah " Kalimat " didalam al-Qur'an, terdapat beberapa kategori :
  1. "Kalimat" bisa berartikan "Ujian" ; Dasarnya adalah al-Qur'an Surah al-Baqarah (2) ayat ke-124 :

    "Dan tatkala Ibrahim DIUJI oleh Tuhannya dengan beberapa UJIAN, maka dilaksanakannya dengan sempurna."

    Konteks ayat diatas dalam bahasa al-Qur'an-nya adalah :
    "Wa 'idzibtala Ibrahim marobbuhu bi KALIMATI faatammahunna ..."


  2. "Kalimat" bisa berartikan "Ketetapan" ; Dasarnya adalah al-Qur'an Surah az-Zumar (39) ayat ke-71 :

    "Tetapi berlakulah ketetapan siksa atas orang-orang kafir"

    Konteks ayat diatas dalam bahasa al-Qur'an-nya adalah :
    "Qolu bala walakin haqqot KALIMAT alazabi 'alal kafirin"


Lebih jauh lagi, al-Qur'an secara langsung mengadakan pembantahan mengenai status keTuhanan 'Isa putra Maryam ini melalui ayat :

"Hai Ahli Kitab ! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu berkata atas Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, 'Isa putera Maryam itu, tidak lain melainkan utusan Allah dan Kalimah-Nya yang Dia berikan kepada Maryam dengan tiupan ruh daripadaNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu berkata: "Tritunggal", Hentikanlah ! Baik bagimu. Allah itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Dia dari mempunyai anak, kepunyaanNya-lah semua yang dilangit dan semua yang dibumi; Cukuplah Allah sebagai Pelindung." (QS. 4:171)

Sehingga nyatalah keterangan al-Qur'an dalam hal ini bahwa Kalimatullah itu tidak berarti Allah itu sendiri sebagaimana yang tertulis dalam Yohanes 1:1-3 dan 1:14 dan al-Qur'an sama sekali tidak mendukung doktrin keTuhanan 'Isa al-Masih.

Adapun juga kalimat "peniupan ruh daripadaNya" sebagaimana yang telah terjadi pada Maryam itu pada konteks ayat diatas adalah sama kejadiannya dengan tiupan ruh dari-Nya yang diberikan kepada Nabi Adam as.

"Tatkala Tuhanmu berkata kepada malaikat: 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan menusia dari tanah !, maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruhKu; maka hendaklah kamu tunduk bersujud kepadanya !" -Qs. 38: 71-72

Kemudian, Isa Rasul Allah atau Isa utusan Allah, ya memang demikian adanya, sama seperti Muhammad pun utusan Allah, Musapun utusan Allah, Ibrahimpun utusan Allah dan itu sama sekali tidak merubah status mereka masing-masing sebagai Tuhan.

Sumber : swaramuslim.com

Senin, 27 April 2009

Mari Kikis Wabah Fanatik Golongan!

Penyakit 'al-`ijab bi al-ra'yi' atau penyakit mengkagumi pendapat sendiri merupakan wabah membahayakan ummat saat ini

Oleh: Dr. Asraf Wajdi Dusuki *

Kelemahan yang paling mengkhawatirkan sedang melanda umat Islam ketika ini ialah Ilustrasi Diskusi By Svenwerkperpecahan yang diakibatkan oleh keberbagaian aliran pemikiran. Walaupun Islam tidak pernah menolak hakikat kerencaman pendapat, namun perselisihan yang menimbulkan pertentangan tajam sehingga menenggelamkan hakikat persamaan risalah dan tujuan ditentang sama sekali.

Jika diperhatikan secara objektif, kebanyakan perselisihan yang membawa kepada pertentangan dan perpecahan amat terkait dengan sikap fanatik terhadap pendapat sendiri, lantas mreka mencoba memonopoli pemikiran dan tiada kesediaan untuk menghormati pandangan orang lain. Penyakit seperti inilah yang disebut sebagai 'al-`ijab bi al-ra'yi' atau penyakit mengkagumi pendapat sendiri ini bagaikan wabah berbahaya yang sedang menjalar dalam urat saraf umat Islam saat ini sehingga mereka tidak lagi mewarisi sikap dan adab para pejuang dan pendukong Islam terdahulu.

Para imam mazhab meski juga berselisih pendapat dalam berbagai persoalan di masa lampau, namun mereka tidak pernah bertepuk dada sebagai pemonopoli kebenaran. Adalah Imam Syafifi dengan pendapatnya yang sangat terkenal; Perkataan lain yang cukup populer dari Imam Syafi'i ialah: "Pendapatku adalah benar tetapi mengandung kemungkinan salah; dan pendapat orang lain adalah salah tetapi mengandung kemungkinan benar."

Ungkapan seperti ini adalah manifestasi adab dan etika dalam perbedaan pendapat yang telah diwarisi sejak zaman para sahabat lagi. Sebab itulah jika disingkap tabir sejarah, kita akan dapati bagaimana para sahabat turut berselisih dalam banyak perkara cabang namun tidak pernah melunturkan iman apa lagi melemahkan mereka walau sedikitpun.

Diriwayatkan bahawa Khalifah Umar Abdul Aziz juga tidak pernah berharap para sahabat tidak berselisih faham sama sekali. Ini karena baginya, perselisihan faham akan membuka pintu keluasan, dan kemudahan kepada umat yang mempunyai tabiat dan keperluan yang berbeda (Al-Qaradawi, Fatawa Mu'asarah).

Berbagai bukti sejarah mengenai perselisihan di kalangan sahabat dapat disaksikan sejak zaman Rasulullah s.a.w. seperti perselisihan mereka mengenai petunjuk Nabi berkenaan shalat Ashar saat pergi ke Bani Quraizah. Ini adalah peristiwa terkenal yang mengungkapkan hakikat perselisihan tetapi Rasulullah s.a.w. sedikitpun tidak mencela kedua kelompok yang berselisih faham itu.

Perselisihan tidak hanya berlaku di zaman Rasulullah saja, namun saat awal wafatnya baginda, para sahabat sekali lagi berselisih mengenai tempat di mana Rasulullah s.a.w. patut dimakamkan. Ada yang berpendapat baginda dikebumikan bersama sahabat-sahabatnya, manakala sebagian yang lain berpendapat agar dimakamkan di dalam masjid. Setelah dirujuk kepada sebuah hadis Nabi s.a.w. yang disampaikan oleh Abu Bakar: "Tidaklah diwafatkan seorang Nabi melainkan ia dikebumikan di tempat ia diwafatkan itu", para sahabat terus mengangkat tikar tempat Rasulullah diwafatkan dan digalilah pusara untuknya.

Banyak lagi contoh-contoh lain mengenai perbedaan dan perselisihan pendapat yang berlaku dikalangan sahabat seperti persoalan politik, pemilihan Khalifah, isu memerangi golongan yang enggan membayar zakat dan berbagai perselisihan dalam masalah fikih yang kesemuanya ditangani tanpa mengikuti hawa nafsu dan emosi melulu.

Begitulah tingginya adab dan etika perbedaan pendapat yang didokongi para sahabat Nabi s.a.w. yang kemudiannya diwariskan kepada generasi selepasnya, sehingga umat dihinggapi penyakit baru yang cepat membara, cepat mencaci, mencela, dengan menerapkan akal budi dan pribadi umat yang baik.

Gara-gara penyakit ini pulalah maka kita menyaksikan suasana umat yang amat menyayat hati. Gara penyakit ini pula, banyak energi kita habis karena terus tertumpu pada polemik, "politiking", adu-domba dan perlombaan yang sekaim menambah jumlah pendukung pendapat masing-masing, tak mau kalah.

Jalan Keluar

Sebagai upaya mengembalikan sinar kegemilangan Islam yang semakin pudar, usaha penjernihan sikap dan pemikiran harus segera dilakukan atas setiap kaum Muslim. Umat seharusnya kembali menjiwai budaya dan prinsip penting yang mendasari sikap dan perwatakan generasi awal Islam terutamanya dalam menangani fenomena perbedaan pendapat.

Prinsip-prinsip tersebut termasuk sikap keterbukaan kepada pandangan berbeda, tidak ta'asub atau fanatik golongan. Bisa berlapang dada dan saling hormat-menghormati dan saling sayang-menyayangi antara satu sama lain.

Jalan keluar dari belitan konflik kefanatikan pemikiran dan ta'asub golongan yang melanda umat terumus dalam ungkapan terkenal tokoh reformis Islam, Jamaluddin al-Afghani: "Bekerjasamalah dalam hal-hal yang disepakati dan berkompromi dalam hal-hal yang diperselisihkan."

Sesungguhnya perbedaan pendapat sebenarnya mampu memperkaya khazanah pemikiran Islam seandainya kita bersedia dan siap menghadapinya secara dewasa. Tetapi andaikata kita menangapinya dengan sikap kekanak-kanakan, menganggap mereka yang tidak sealiran sebagai musuh, maka perbedaan pendapat pasti menjadi bahan bakar dan penyemarak api persengketaan yang akan membinasakan.

Penulis pernah mengambil Islamic Banking and Finance di Universiti Loughborough, United Kingdom dan pernah bertugas sebagai dosen di Kulliyyah Ekonomi dan Pengurusan, Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM)


sumber :hidayatullah.com

Senin, 20 April 2009

ISLAM DAN AKULTURASI BUDAYA LOKAL

Oleh: Irfan Salim, Lc.

Untuk strategi pengembangan Islam di Indonesia, kita perlu bervisi ke depan. Karena budaya menyentuh seluruh aspek dan dimensi cara pandang, sikap hidup serta aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Selain itu, gerakan kultural lebih integratif. Kita patut mencontoh metodologi Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Sunan Kalijaga begitu melihat proses keruntuhan feodalisme Majapahit, ia mendorong percepatan proses transformasi itu, justeru dengan menggunakan unsur-unsur lokal guna menopang efektifitas segi teknis dan operasionalnya. Salah satu yang ia gunakan adalah wayang.

Muqaddimah

Ketika seorang pakar menyentak kesadaran kita dengan isu mengganti "Assalamu'alaikum" dengan ucapan "Selamat Pagi" sebagai dalih sampel dari pribumisasi Islam, kita pun bertanya; "Apa tujuan di balik pernyataan itu?" Sikap pro dan kontra pun bermunculan. Kemudian pertanyaan tadi bisa dilanjutkan; apakah ada ketegangan antara agama yang cenderung permanen dengan budaya yang dinamis? Bagaimana hubungan ajaran agama yang universal dengan setting budaya lokal yang melingkupinya? Lalu, bagaimana sikap salaf dalam mengakomodasi tradisi dan nilai-nilai Islam. Kemudian apakah syara' menjustifikasi hal itu? Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Universalisme Islam

Universalisme (al-'Alamiyah) Islam adalah salah satu karakteristik Islam yang agung. Islam sebagai agama yang besar berkarakteristikkan: (1) Rabbaniyyah, (2) Insaniyyah (humanistik), (3) Syumul (totalitas) yang mencakup unsur keabadian, universalisme dan menyentuh semua aspek manusia (ruh, akal, hati dan badan), (4) Wasathiyah (moderat dan seimbang), (5) Waqi'iyah (realitas), (6) Jelas dan gamblang, (7) Integrasi antara al-Tsabat wa al-Murunah (permanen dan elastis).

Universalisme Islam yang dimaksud adalah bahwa risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat. Ia bukan risalah untuk bangsa tertentu yang beranggapan bahwa dia-lah bangsa yang terpilih, dan karenanya semua manusia harus tunduk kepadanya.

Risalah Islam adalah hidayah Allah untuk segenap manusia dan rahmat-Nya untuk semua hamba-Nya. Manifesto ini termaktub abadi dalam firman-Nya: "Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmah bagi seluruh alam". "Katakanlah (Muhammad) agar ia menjadi juru peringatan bagi seru sekalian alam.4

Ayat-ayat di atas yang nota bene Makkiyah, secara implisit membantah tuduhan sebagian orientalis yang menyatakan bahwa Muhammad Saw tidak memproklamirkan pengutusan dirinya untuk seluruh umat manusia pada awal kerisalahannya, akan tetapi setelah mendapat kemenangan atas bangsa Arab.5

Universalisme Islam menampakkan diri dalam berbagai manifestasi penting, dan yang terbaik adalah dalam ajaran-ajarannya.6 Ajaran-ajaran Islam yang mencakup aspek akidah, syari'ah dan akhlak (yang sering kali disempitkan oleh sebagian masyarakat menjadi hanya kesusilaan dan sikap hidup), menampakkan perhatiannya yang sangat besar terhadap persoalan utama kemanusiaan. Hal ini dapat dilihat dari enam tujuan umum syari'ah yaitu; menjamin keselamatan agama, badan, akal, keturunan, harta dan kehormatan. Selain itu risalah Islam juga menampilkan nilai-nilai kemasyarakatan (social values) yang luhur, yang bisa di katakan sebagai tujuan dasar syari'ah yaitu; keadilan, ukhuwwah, takaful, kebebasan dan kehormatan. 7

Semua ini akhirnya bermuara pada keadilan sosial dalam arti sebenarnya. Dan seperti kita tahu, bahwa pandangan hidup (world view, weltanschaung) yang paling jelas adalah pandangan keadilan sosial.8

Kosmopolitanisme Kebudayaan Islam

Selain merupakan pancaran makna Islam itu sendiri serta pandangan tentang kesatuan kenabian (wahdat al-nabawiyah; the unity of prophet) berdasarkan makna Islam itu, serta konsisten dengan semangat prinsip-prinsip itu semua, kosmopolitanisme budaya Islam juga mendapat pengesahan-pengesahan langsung dari kitab suci seperti suatu pengesahan berdasarkan konsep-konsep kesatuan kemanusiaan (wihdat al-insaniyah; the unity of humanity) yang merupakan kelanjutan konsep kemahaesaan Tuhan (wahdaniyat atau tauhid; the unity of god). Kesatuan asasi ummat manusia dan kemanusiaan itu ditegaskan dalam firman-firman:

"Ummat manusia itu tak lain adalah ummat yang tunggal, tapi kemudian mereka berselisih (sesama mereka) jika seandainya tidak ada keputusan (kalimah) yang telah terdahulu dari Tuhanmu, maka tentulah segala perkara yang mereka perselisihkan itu akan diselesaikan (sekarang juga)".9

"Ummat manusia itu dulunya adalah ummat yang tunggal, kemudian Allah mengutus para nabi untuk membawa kabar gembira dan memberi peringatan dan bersama para nabi itu diturunkannya kitab suci dengan membawa kebenaran, agar kitab suci itu dapat memberi keputusan tentang hal-hal yang mereka perselisihkan..." 10

Para pengikut Nabi Muhammad diingatkan untuk selalu menyadari sepenuhnya kesatuan kemanusiaan itu dan berdasarkan kesadaran itu mereka membentuk pandangan budaya kosmopolit, yaitu sebuah pola budaya yang konsep-konsep dasarnya meliputi, dan diambil dari dari seluruh budaya ummat manusia. 11

Refleksi dan manifestasi kosmopolitanisme Islam bisa dilacak dalam etalase sejarah kebudayaan Islam sejak jaman Rasulullah, baik dalam format non material seperti konsep-konsep pemikiran, maupun yang material seperti seni arsitektur bangunan dan sebagainya. Pada masa awal Islam, Rasulullah Saw berkhutbah hanya dinaungi sebuah pelepah kurma. Kemudian, tatkala kuantitas kaum muslimin mulai bertambah banyak, dipanggillah seorang tukang kayu Romawi. Ia membuatkan untuk Nabi sebuah mimbar dengan tiga tingkatan yang dipakai untuk khutbah Jumat dan munasabah-munasabah lainnya. Kemudian dalam perang Ahzab, Rasul menerima saran Salman al-Farisy untuk membuat parit (khandaq) di sekitar Madinah. Metode ini adalah salah satu metode pertahanan ala Persi. Rasul mengagumi dan melaksanakan saran itu. Beliau tidak mengatakan: "Ini metode Majusi, kita tidak memakainya!". Para sahabat juga meniru manajemen administrasi dan keuangan dari Persi, Romawi dan lainnya. Mereka tidak ! keberatan dengan hal itu selama menciptakan kemashlahatan dan tidak bertentangan dengan nas. Sistem pajak jaman itu diadopsi dari Persi sedang sistem perkantoran (diwan) berasal dari Romawi.12

Pengaruh filsafat Yunani dan budaya Yunani (hellenisme) pada umumnya dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam sudah bukan merupakan hal baru lagi. Seperti halnya budaya Yunani, budaya Persia juga amat besar sahamnya dalam pengembangan budaya Islam. Jika dinasti Umawiyah di Damascus menggunakan sistem administratif dan birokratif Byzantium dalam menjalankan pemerintahannya, dinasti Abbasiyah di Baghdad (dekat Tesiphon, ibu kota dinasti Persi Sasan) meminjam sistem Persia. Dan dalam pemikiran, tidak sedikit pengaruh-pengaruh Persianisme atau Aryanisme (Iranisme) yang masuk ke dalam sistem Islam. Hal ini terpantul dengan jelas dalam buku al-Ghazali (ia sendiri orang Parsi), Nashihat al-Mulk, siyasat namah (pedoman pemerintahan), yang juga banyak menggunakan bahan-bahan pemikiran Persi. 13

Islam, Bias Arabisme dan Akulturasi Timbal Balik dengan Budaya Lokal

Walaupun Islam sebagai agama bersifat universal yang menembus batas-batas bangsa, ras, klan dan peradaban, tak bisa dinapikan bahwa unsur Arab mempunyai beberapa keistimewaan dalam Islam. Ada hubungan kuat yang mengisyaratkan ketiadaan kontradiksi antara Islam sebagai agama dengan unsur Arab. Menurut Dr. Imarah, hal ini bisa dilihat dari beberapa hal :

Pertama, Islam diturunkan kepada Muhammad bin Abdullah, seorang Arab. Juga, mukjizat terbesar agama ini, al-Quran, didatangkan dengan bahasa Arab yang jelas (al-Mubin), yang dengan ketinggian sastranya dapat mengungguli para sastrawan terkemuka Arab sepanjang sejarah. Sebagaimana memahami dan menguasai al-Quran sangat sulit dengan bahasa apapun selain Arab. Implikasinya, Islam menuntut pemeluknya jika ingin menyelami dan mendalami makna kandungan al-Quran, maka hendaknya mengarabkan diri.

Kedua, dalam menyiarkan dakwah Islam yang universal, bangsa Arab berada di garda depan, dengan pimpinan kearaban Nabi dan al-Quran, kebangkitan realita Arab dari segi "sebab turunnya wahyu" dengan peran sebagai buku catatan interpretatif terhadap al-Qur'an dan lokasi dimulainya dakwah di jazirah Arab sebagai "peleton pertama terdepan" di barisan tentara dakwahnya.

Ketiga, jika agama-agama terdahulu mempunyai karakteristik yang sesuai dengan konsep Islam lokal, kondisional dan temporal, pada saat Islam berkarakteristikkan universal dan mondial, maka posisi mereka sebagai "garda terdepan" agama Islam adalah menembus batas wilayah mereka.14

Walaupun begitu, menurut pengamatan Ibnu Khaldun, seorang sosiolog dan sejarawan muslim terkemuka, bahwa di antara hal aneh tapi nyata bahwa mayoritas ulama dan cendekiawan dalam agama Islam adalah 'ajam (non Arab), baik dalam ilmu-ilmu syari'at maupun ilmu-ilmu akal. Kalau toh diantara mereka orang Arab secara nasab, tetapi mereka 'ajam dalam bahasa, lingkungan pendidikan dan gurunya. 15

Lebih lanjut, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa bersamaan dengan meluasnya daerah Islam, muncullah banyak masalah dan bid'ah, bahasa Arab sudah mulai terpolusikan, maka dibutuhkan kaidah-kaidah Nahwu. Ilmu-ilmu syari'at menjadi keterampilan atau keahlian istinbath, deduktif, teoritisasi dan analogi. Ia membutuhkan ilmu-ilmu pendukung yang menjadi cara-cara dan metode-metode berupa pengetahuan undang-undang bahasa Arab dan aturan-aturan istinbath, qiyas yang diserap dari aqidah-aqidah keimanan berikut dalil-dalilnya, karena saat itu muncul bid'ah-bid'ah dan ilhad (atheisme). Maka jadilah ilmu-ilmu ini semua ilmu-ilmu keterampilan yang membutuhkan pengajaran. Hal ini masuk dalam golongan komoditi industri, dan sebagaimana telah dijelaskan, bahwa komoditi industri adalah peradaban orang kota sedangkan orang Arab adalah sangat jauh dari hal ini.16 Ibnu Khaldun menyebutkan, intelektual-intelektual yang mempunyai kontribusi sangat besar dalam ilmu Nahwu seperti Imam Sibawaih, al-Farisi, dan al-Zujjaj. Mereka semua adalah 'ajam. Begitu juga intelektual-intelektual dalam bidang hadits, ushul fiqih, ilmu kalam dan tafsir. Benarlah sabda Rasulullah; "Jika saja ilmu digantungkan diatas langit, maka akan diraih oleh orang-orang dari Persia".17

Kita lihat juga bahwa budaya Persia; budaya yang pernah jaya dan saat Islam masuk; ia sedang menyusut, adalah memiliki pengaruh yang demikian dalam, luas, dinamis dan kreatif terhadap perkembangan peradaban Islam. Lihat saja al-Ghazali, meskipun ia kebanyakan menulis dalam bahasa Arab sesuai konvesi besar kesarjanaan saat itu, ia juga menulis beberapa buku dalam bahasa Persi. Lebih dari itu, dalam menjabarkan berbagai ide dan argumennya, dalam menandaskan mutlaknya nilai keadilan ditegakkan oleh para penguasa, ia menyebut sebagai contoh pemimpin yang adil itu tidak hanya Nabi saw dan para khalifah bijaksana khususnya Umar bin Khattab, tetapi juga Annushirwan, seorang raja Persia dari dinasti Sasan.18

Menarik untuk diketengahkan juga walaupun saat ini Persia atau Iran menjadikan Syiah sebagai madzhab, namun lima dari penulis kumpulan hadits Sunni dan Kutub as-Sittah berasal dari Persia. Mereka adalah Imam Bukhari, Imam Muslim al-Naisaburi, Imam Abu Dawud al-Sijistani, Imam al Turmudzi dan Imam al-Nasai.

Dari paparan di atas, menunjukkan kepada kita betapa kebudayaan dan peradaban Islam dibangun diatas kombinasi nilai ketaqwaan, persamaan dan kreatifitas dari dalam diri Islam yang universal dengan akulturasi timbal balik dari budaya-budaya lokal luar Arab yang terislamkan. Pun tidak hendak mempertentangkan antara Arab dan non Arab. Semuanya tetap bersatu dalam label "muslim".

"Yang terbaik dan termulia adalah yang paling taqwa".19

"yang paling suci, yang paling banyak dan ikhlas kontribusi amal-nya untuk kemulian Islam".20

Akulturasi Islam dengan Budaya di Indonesia

Seperti di kemukakan di atas, Islam adalah agama yang berkarakteristikkan universal, dengan pandangan hidup (weltanchaung) mengenai persamaan, keadilan, takaful, kebebasan dan kehormatan serta memiliki konsep teosentrisme yang humanistik sebagai nilai inti (core value) dari seluruh ajaran Islam, dan karenanya menjadi tema peradaban Islam.21

Pada saat yang sama, dalam menerjemahkan konsep-konsep langitnya ke bumi, Islam mempunyai karakter dinamis, elastis dan akomodatif dengan budaya lokal, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam itu sendiri. Permasalahannya terletak pada tata cara dan teknis pelaksanaan. Inilah yang diistilahkan Gus Dur dengan "pribumisasi Islam".

Upaya rekonsiliasi memang wajar antara agama dan budaya di Indonesia dan telah dilakukan sejak lama serta bisa dilacak bukti-buktinya. Masjid Demak adalah contoh konkrit dari upaya rekonsiliasi atau akomodasi itu. Ranggon atau atap yang berlapis pada masa tersebut diambil dari konsep 'Meru' dari masa pra Islam (Hindu-Budha) yang terdiri dari sembilan susun. Sunan Kalijaga memotongnya menjadi tiga susun saja, hal ini melambangkan tiga tahap keberagamaan seorang muslim; iman, Islam dan ihsan. Pada mulanya, orang baru beriman saja kemudian ia melaksanakan Islam ketika telah menyadari pentingnya syariat. Barulah ia memasuki tingkat yang lebih tinggi lagi (ihsan) dengan jalan mendalami tasawuf, hakikat dan makrifat.22

Hal ini berbeda dengan Kristen yang membuat gereja dengan arsitektur asing, arsitektur Barat. Kasus ini memperlihatkan bahwa Islam lebih toleran terhadap budaya lokal. Budha masuk ke Indonesia dengan membawa stupa, demikian juga Hindu. Islam, sementara itu tidak memindahkan simbol-simbol budaya Islam Timur Tengah ke Indonesia. Hanya akhir-akhir ini saja bentuk kubah disesuaikan. Dengan fakta ini, terbukti bahwa Islam tidak anti budaya. Semua unsur budaya dapat disesuaikan dalam Islam. Pengaruh arsitektur India misalnya, sangat jelas terlihat dalam bangunan-bangunan mesjidnya, demikian juga pengaruh arsitektur khas mediterania. Budaya Islam memiliki begitu banyak varian. 23

Yang patut diamati pula, kebudayaan populer di Indonesia banyak sekali menyerap konsep-konsep dan simbol-simbol Islam, sehingga seringkali tampak bahwa Islam muncul sebagai sumber kebudayaan yang penting dalam kebudayaan populer di Indonesia.

Kosakata bahasa Jawa maupun Melayu banyak mengadopsi konsep-konsep Islam. Taruhlah, dengan mengabaikan istilah-istilah kata benda yang banyak sekali dipinjam dari bahasa Arab, bahasa Jawa dan Melayu juga menyerap kata-kata atau istilah-istilah yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan. Istilah-istilah seperti wahyu, ilham atau wali misalnya, adalah istilah-istilah pinjaman untuk mencakup konsep-konsep baru yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam khazanah budaya populer. 24

Dalam hal penggunaan istilah-istilah yang diadopsi dari Islam, tentunya perlu membedakan mana yang "Arabi-sasi", mana yang "Islamisasi". Penggunaan dan sosialisasi terma-terma Islam sebagai manifestasi simbolik dari Islam tetap penting dan signifikan serta bukan seperti yang dikatakan Gus Dur, menyibukkan dengan masalah-masalah semu atau hanya bersifat pinggiran. 25 Begitu juga penggunaan term shalat sebagai ganti dari sembahyang (berasal dari kata 'nyembah sang Hyang') adalah proses Islamisasi bukannya Arabisasi. Makna substansial dari shalat mencakup dimensi individual-komunal dan dimensi peribumisasi nilai-nilai substansial ini ke alam nyata. Adalah naif juga mengganti salam Islam "Assalamu'alaikum" dengan "Selamat Pagi, Siang, Sore ataupun Malam". Sebab esensi doa dan penghormatan yang terkandung dalam salam tidak terdapat dalam ucapan "Selamat Pagi" yang cenderung basa-basi, selain salam itu sendiri memang dianjurkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya.

'Urf sebagai justifikasi yang dinamis

Dalam syariat Islam yang dinamis dan elastis, terdapat landasan hukum yang dinamakan 'urf. 'Urf adalah sesuatu yang menjadi kebiasaan dan dijalankan oleh manusia, baik berupa perbuatan yang terlakoni diantara mereka atau lafadz yang biasa mereka ucapkan untuk makna khusus yang tidak dipakai (yang sedang baku). 26

Dari segi shahih tidaknya, 'urf terbagi dua: 'urf shahih dan fasid. Yang pertama adalah adat kebiasaan manusia yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, seperti kebiasaan seorang istri tidak dapat pindah ke rumah suaminya kecuali setelah menerima sebagian dari mahar, karena mahar terbagi dua; ada yang didahulukan dan ada yang diakhirkan. Sedangkan yang diberikan oleh si peminang pada saat tunangan di anggap hadiah bukan bagian dari mahar.27 'Urf Shahih ini wajib diperhatikan dalam proses pembuatan hukum dan pemutusan hukum di pengadilan yang disebabkan adat kebiasaan manusia, kebutuhan dan kemashlahatan mereka. 'Urf Fasid adalah adat kebiasaan manusia menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal seperti kebiasaan makan riba, ikhthilath (campur baur) antara pria dan wanita dalam pesta. 28 'Urf ini tidak boleh digunakan sumber hukum, karena bertentangan dengan syariat.

Validitas 'urf dalam syariah diambil dari ayat; "Berilah permaafan, perintahkan dengan yang makruf dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh". 29 "Dan dari ucapan Ibnu Mas'ud; "Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka menurut Allah adalah baik. Dan sebaliknya yang dipandang jelek oleh mereka, menurut Allah adalah jelek". 30

Dari dua dalil ini para fuqaha madzahib arba'ah menjadikan 'urf sebagai landasan hukum.

Dalam banyak hal, syara' tidak memberikan batasan-batasan yang kaku, akan tetapi memberikan kelonggaran kepada 'urf untuk menentukan hukumnya. Seperti dalam ayat; "Kewajiban suami memberikan rizki dan pakaian kepada mereka (isteri-isterinya) dengan makruf. 31 "Dan bagi wanita-wanita yang ditalak, (berhak diberi) harta secara makruf". 32

Artinya, 'ufrlah yang menghukumi dan membatasi nafkah kepada istri dan harta mut'ah bagi isteri yang ditalak.

Karenanya, ulama ushul merumuskan sebuah kaidah, "al-'adah muhakkamah". Dan 'urf memiliki i'tibar (pertimbangan) dalam syara'. Imam Malik membangun banyak hukum-hukumnya atas dasar amal penduduk Madinah. Abu Hanifah dan pengikutnya berselisih pendapat dalam beberapa masalah karena menimbang perbedaan 'urf. Al-Syafi'i tatkala tinggal di Mesir merubah sebagian hukum yang ia tetapkan di Bagdhad karena perbedaan 'urf.33 Bahkan, Imam al-Qarafi al-Maliki, menjelaskan dalam kitabnya; "al-Ahkam", bahwa melanggengkan hukum-hukum yang dasarnya 'urf dan adat, sementara adat kebiasaan itu selalu berubah adalah menyalahi ijma' dan tidak mengetahui agama. 34

Khatimah

Jika demikian, jelaslah perjalanan sejarah rekonsiliasi antara Islam sebagai agama dan budaya lokal yang melingkupinya serta adanya landasan hukum legitimatif dari syara' berupa 'urf dan mashlahah. Maka untuk strategi pengembangan budaya Islam di Indonesia, kita perlu bervisi ke depan. Kenapa harus budaya? Karena budaya menyentuh seluruh aspek dan dimensi cara pandang, sikap hidup serta aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Selain itu, gerakan kultural lebih integratif dan massal sifatnya. Sehubungan dengan hal ini, kita patut mencontoh metodologi Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Sunan Kalijaga begitu melihat proses keruntuhan feodalisme Maja pahit dan digantikan oleh egalitarianisme Islam, ia mendorong percepatan proses transformasi itu, justeru dengan menggunakan unsur-unsur lokal guna menopang efektifitas segi teknis dan operasionalnya. Salah satu yang ia gunakan adalah wayang, juga gamelan yang dalam gabungannya dengan unsur-unsur upacara Islam populer adalah menghasilkan tradisi sekatenan di pusat-pusat kekuasaan Islam seperti Cirebon, Demak, Yogyakarta dan Surakarta. Dalam seni musik Islam misalnya, yang mengandung elemen-elemen isi, tujuan, cara penyajian yang islami, kenapa justru alat musiknya seperti rebana yang lebih diperhatikan.35 Alat musik itu, menurut hemat saya, masuk dalam katagori 'urf. Ia bisa berubah sesuai dengan perkembangan jaman. **

Catatan kaki

1. Dr. Yusuf Qardhawi, Al-khashaish al-'aamiyah al-Islam (Beirut cet. VIII, 1993) hal. 3

2. QS. Al-Anbiya: 107

3. QS Al-A'raf : 158

4. QS Al-Furqan: 1

5. Qardhawi, op cit hal. 107-108.

6. Lihat: Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam oleh Abdurrahman Wahid dalam "Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah". Editor: Budhy Munawwar Rahman. (Yayasan Paramadina, cet. I, Mei 1994) hal. 515.

7. Dr. Yusuf Qardhawi, "Madkhal li al-Dirasat al-Islamiyah" (Beirut, cet. I,1993) hal. 61

8. Abdurrahman Wahid, "Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia, Menatap Masa Depan" (Jakarta, cet. I, 1989) hal. 442

9. QS. Yunus: 19

10. QS Al-Baqarah: 213

11. Dr. Nurkholis Madjid, "Islam, Doktrin dan Peradaban", (Jakarta, cet. II, 1992) hal. 442

12. Qardhawi, Khashais, op cit,hal. 253

13. Madjid, op cit,, hal. 444

14. Dr. Muhammad Imarah, "Al-Islam wa al-'Arubah (al-Haiahal-Mashriyah al-'Ammah li al-Kitab, 1996) hal. 11-12

15. Ibnu Khaldun, "Muqaddimah Ibnu Khaldun" (Beirut, cet. VII, 1989) hal. 543

16. Ibid hal 544

17. Ibid hal 544

18. Madjid, op cit, hal. 547-548

19. QS. Al-Hujurat: 13

20. QS. Al-Mulk: 2

21. Dr. Kuntowijoyo, "Paridigma Islam" (Mizan, cet. III, 1991)hal. 229

22.Abdurrahman Wahid, "Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia, Menatap Masa Depan" (P3M, Jakarta cet. I, 1989) hal. 92

23. Kuntowijoyo, op cit hal. 92

24. Ibid, hal. 235

25. Wahid, op cit hal. 92

26.QS Al-'Ankabut:

27. Dr. Wahbah Zuhaili, "Ushul Fiqh al-Islami" (Beirut, cet.I,1986) jilid II, hal. 833

28. Ibid hal. 830

29. Ibid hal. 30

30. QS. Al- A'raf: 199

31.Terhadap al-hadits ini, al-Zaira'i berkata; ghaarib marfu'. Yang benar, al-hadit ini mauquf kepada Ibnu Mas'ud. Lih. "Nashbu al Rayah" IV: 133. (Diriwayatkan oleh Ahmad al-Bazzar dan al-Thabrani dalam kitab "al-Kabir" dari Ibnu Mas'ud, rijal- nya tsiqat (Majma' al-Zawai I:178)

32. QS Al-Baqarah : 223

33. Dr. Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Kairo, hal. 90

34. Qardhawi, dalam kisah "Khashaish", op cit hal. 246

35.Seperti yang dipahami oleh kalangan tekstualis yang lebih ekstrim.


Irfan Salim Zubeir, Lahir di Jakarta, 21 Juli 1973. Ia adalah mahasiswa program S.2. Fak. Dirasah Islamiyah, Universitas Al-Azhar. Tulisan ini diangkat dari diskusi mingguan yang diadakan oleh LESPISI (lembaga Studi Pemikiran dan Shahwah Islamiyah) Cairo.

sumber : media.isnet.org

Alkitab di Dunia Modern

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

PASAL I: LATARBELAKANG SITUASI MASA KINI

  1. KONSENSUS PADA PERIODE SESUDAH PERANG
    1. Gerakan Neo-orthodox
    2. Ditekankannya Alkitab di luar gerakan neo-orthodox
    3. Akibat-akibat gerakan kritik-historis
    4. Ciri-ciri keneo-orthodoxan
      1. Unsur polemik terhadap fundamentalisme
      2. Alkitab dipandang sebagai keseluruhan
      3. Ditekankannya exegesis
      4. Keneo-orthodoxan dan gerakan oikumenis
      5. Keneo-orthodoxan dan soal-soal sosio-politis
    5. Kesimpulan
  2. BEBERAPA TANDA-TANYA YANG DIAJUKAN BELAKANGAN INI
    1. Persoalan-persoalan kritik-historis belum terpecahkan
    2. Betulkah Alkitab harus dibaca sebagai keseluruhan?
    3. Reaksi terhadap berkhotbah secara exegetis
    4. Persoalan-persoalan tentang exegesis di kalangan "oikumenis"
      1. Reaksi terhadap pendapat bahwa "Alkitab merupakan landasan Kesatuan"
      2. Diskusi tentang metode-metode hermeneutik
    5. Kesimpulan Sementara
    6. Reaksi merupakan fenomena yang terbatas
      1. Fenomena tampak terutama di kalangan yang berbahasa Inggris
      2. Terbatas pada minoritas
      3. Terutama berpengaruh di antara generasi muda
      4. Bukan penolakan terhadap Alkitab
    7. Pokok-pokok ketegangan yang dirasakan
      1. Persoalan tentang relevansi (perlunya) Alkitab
      2. Persoalan tentang pengkomunikasian berita Alkitab
      3. Persoalan tentang keterbatasan Alkitab
      4. Persoalan tentang "pengisolasian" bahan Alkitab
      5. Persoalan tentang tanggung-jawab kita
    8. Kesimpulan

PASAL II. BEBERAPA KONSEP YANG BERPENGARUH

  1. PENGILHAMAN
    1. "Pengilhaman" diartikan "bebas dari kesalahan"
      1. Ditekankannya asal-mula Alkitab
      2. Ketak-mungkinan-salah Alkitab
    2. Pengilhaman kalamiah/harfiah
      1. Di kalangan fundamentalis
      2. Di kalangan Katholik
        1. Alkitab dan tradisi
        2. Kekonservatifan Katholik
    3. "Pengilhaman" tidak identik dengan "Ketak-mungkinan-salah"
    4. Pengilhaman di bidang kesusasteraan
    5. Keberatan-keberatan terhadap konsep pengilhaman
    6. Kesimpulan
  2. FIRMAN ALLAH
    1. Konsep Firman Allah menurut Karl Barth
      1. Firman Allah = Yesus Kristus
      2. Alkitab sebagai laporan historis dan kesaksian-iman
      3. Firman yang berbentuk tiga
      4. Alkitab "menjadi" Firman Allah
      5. Alkitab bersifat ilahi dan manusiawi
    2. Keuntungan-keuntungan dalam memakai istilah Firman Allah
    3. Keberatan-keberatan terhadap istilah Firman Allah
      1. Konsep Firman Allah terlalu berbau dogmatis
      2. Kesulitan-kesulitan hermeneutis
      3. Keberatan-keberatan teologis
    4. Kesimpulan
  3. KEWIBAWAAN
    1. Konsep "kewibawaan" menunjukkan "hubungan"
      1. Hubungan Alkitab dengan kita
      2. Hubungan Alkitab dengan tradisi
    2. Keuntungan-keuntungan dalam memakai konsep kewibawaan
      1. Mengalihkan perhatian dan soal "asal-mula" Alkitab
      2. Memusatkan perhatian kepada karya-karya Allah dalam proses penyelamatan
      3. Mengalihkan perhatian dari "laporan historis" kepada "kesaksian iman"
      4. "Kewibawaan" tidak diidentikkan dengan "ketak-mungkinan salah"
    3. Keberatan-keberatan terhadap konsep kewibawaan
      1. Krisis kewibawaan di dunia modern
      2. "Kewibawaan" disamakan dengan "keotoriteran"
      3. Konsep kewibawaan yang "lunak" dan yang "keras"
        1. Konsep yang "keras"
        2. Konsep yang "lunak"
      4. Istilah "kewibawaan" biasanya diartikan secara keras atau hukumiah
      5. Akar-akar konsep kewibawaan
      6. Konsep kewibawaan tidak sesuai dengan kerangkaian/struktur pemikiran teologis modern
      7. "Kewibawaan. Alkitab" sebagai pengalaman perorangan dan sebagai prinsip umum
  4. FUNGSI
    1. Keuntungan-keuntungan dalam memakai konsep fungsi"
      1. Memungkinkan pendekatan yang konkret atau mendetail/terperinci
      2. Memusatkan perhatian kepada proses-proses penafsiran dan penerapan
      3. Memungkinkan penilaian yang lebih flexibel terhadap berbagai jenis bahan Alkitab
      4. Konsep "fungsi" lebih flexibel daripada konsep "kewibawaan"
    2. Keberatan-keberatan terhadap konsep "fungsi"
      1. Konsep "fungsi" menghasilkan pendekatan yang bersifat deskriptif melulu
        1. Ada keuntungan dalam pendekatan "netral"
        2. Pendekatan melalui "fungsi" tidaklah bersifat deskriptif melulu
      2. Konsep "fungsi" agaknya tidak membantu penentuan norma
      3. Kurang nampak adanya perbedaan prinsipial antara konsep "fungsi" dan konsep "kewibawaan"
  5. PENUTUP

PASAL III. RELATIVISME-ANTAR-KEBUDAYAAN DAN KERADIKALAN BARU

  1. PENDAHULUAN
    1. Tandatanya-tandatanya yang radikal
    2. Sikap keradikalan baru terhadap keneo-orthodoxan
  2. CIRI-CIRI KERADIKALAN BARU
    1. Ditekankannya situasi modern
    2. Penolakan terhadap konsep struktur kewibawaan extern
    3. Relativisme-antar-kebudayaan
    4. Penolakan terhadap ide kekonstanan tabiat manusia
    5. Perbandingan relativisme-antar-kebudayaan dengan teologia Bultmann
    6. Kepekaan terhadap keganjilan-keganjilan yang implisit dalam konsep kewibawaan Alkitab
    7. Kepekaan terhadap unsur kebetulan dalam proses pembentukan kanon
  3. LANGKAH-LANGKAH PERTAMA DALAM MENDISKUSIKAN KERADIKALAN BARU
    1. Ditekankannya situasi modern
      1. Unsur-unsur kekuatan
      2. Unsur-unsur keberat-sebelahan
    2. Pertimbangan-pertimbangan tentang relativisme antar-kebudayaan
      1. Kecenderungan untuk mengisolasikan manusia modern
      2. Pendefinisian masa-berlakunya kebudayaan secara terlampau sempit
      3. Kecenderungan untuk mem-pasifkan iman atau teologia Kristen berhadapan dengan kebudayaan modern
    3. Ide tentang kekonstanan tabiat manusia
      1. Pandangan tradisional Kristen mendukung konsep kekonstanan tabiat manusia
      2. Perobahan tabiat dan perobahan situasi
      3. "Analogi situasi" sebagai prinsip penafsiran atau penerapan bahan Alkitab
    4. Beberapa pertimbangan-tambahan tentang keradikalan baru
      1. Aspek falsafi keradikalan baru
      2. Perbandingan relativisme-antar-kebudayaan dengan keneo-orthodoxan
      3. Perbandingan lanjutan antara relativisme-antar-kebudayaan dan teologia Bultmann
      4. Prinsip bahwa konsensus pemikiran gereja sendiri menjadi standard untuk gereja
  4. TANGGAPAN SEMENTARA TERHADAP KERADIKALAN BARU
    1. Unsur kekuatan: protes terhadap keganjilan-keganjilan yang implisit termaktub dalam konsep kewibawaan Alkitab
    2. Unsur yang kurang kuat: ditekankannya relativisme-antar-kebudayaan
    3. Apakah ada alternatif terhadap keradikalan baru itu?
    4. Sanggupkah keradikalan baru itu menghasilkan suatu teologia yang positif?

PASAL IV. ALKITAB SEBAGAI BAHAN KESUSASTERAAN

  1. ALKITAB SEBAGAI MITOS-DASAR AGAMA KRISTEN
    1. Definisi "mitos" sebagai kategori kesusasteraan
    2. Unsur faktualitas dan unsur kesusasteraan dalam Alkitab
    3. Ditekankannya unsur kesusasteraan tidak timbul dari ketidak-percayaan
    4. "Mitos-mitos kesusasteraan": Terjadinya dunia, Kelahiran Tuhan Yesus, Kebangkitan Tuhan Yesus
    5. Pemakaian bahan Alkitab secara liturgis dan secara meditatif
    6. Typologi dan alegorisasi
    7. Pendekatan "apresiasi kesusasteraan" sebagai milik-bersama gereja dan masyarakat
    8. Pendekatan teologis dan pendekatan "apresiasi kesusasteraan" saling melengkapi
  2. TIGA KEMUNGKINAN PENDEKATAN TERHADAP PENYELIDIKAN ALKITAB
    1. Tiga sasaran: keterangan-obyektif; pikiran pengarang; apresiasi kesusasteraan
    2. Integrasi tradisionil antara ketiga faktor itu
    3. Keterpisahan ketiga faktor itu pada masa kini
      1. Ditekankannya kewibawaan Alkitab
      2. Ditekankannya aspek-aspek kesusasteraan
  3. PEMAKAIAN ALKITAB SECARA LITURGIS DAN MEDITATIF
    1. Titik-titik persamaan dengan pendekatan "apresiasi kesusasteraan"
    2. Titik-titik perbedaan dengan pendekatan "apresiasi kesusasteraan"
    3. Nisbah antara liturgi, faktualitas, den teologia
  4. ALKITAB SEBAGAI BAHAN PUITIS-SIMBOLIS
  5. PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP PENGAPRESIASIAN KESUSASTERAAN UMUM
    1. Pendapat D.E. Nineham
    2. Beberapa tanggapan terhadap pendapat D.E. Nineham
      1. "Tafsiran yang paling tepat atas karangan kesusasteraan ialah karangan kesusasteraan itu sendiri"
      2. "Tiap-tiap karangan kesusasteraan mengandung kemajemukan makna"
      3. Keberatan terhadap penentuan "makna definitif" karangan kesusasteraan
      4. Jalan tengah: Kemajemukan makna dalam batas-batas tertentu
      5. Hubungan "makna untuk masa lampau" dan "makna untuk masa kini"
  6. KESIMPULAN-KESIMPULAN
    1. Keuntungun-keuntungan dalam pendekatan "apresiasi kesusasteraan"
    2. Bahaya bahwa "apresiasi kesusasteraan" mengaburkan hasil-hasil penyelidikan kritis-historis
    3. Kenetralan-teologis pendekatan "apresiasi kesusasteraan"
      1. Segi-segi positif
      2. Segi-segi negatif

PASAL V. PERISTIWA DAN PENAFSIRAN: ALKITAB SEBAGAI BAHAN KETERANGAN

  1. PENDAHULUAN
  2. ALKITAB SEBAGAI BAHAN KESAKSIAN UTAMA TENTANG "PERISTIWA-PERISTIWA PENYELAMATAN"
    1. Penyataan bukanlah terletak dalam Alkitab, melainkan dalam peristiwa-peristiwa yang dilaporkan Alkitab
    2. Unsur-unsur ketidak-telitian dalam laporan-laporan Alkitab
    3. Unsur-unsur subyektif dalam laporan-laporan Alkitab
    4. Kesimpulan
  3. KEBERATAN-KEBERATAN TERHADAP PENDAPAT BAHWA ALKITAB MERUPAKAN "KESAKSIAN TENTANG PERISTIWA-PERISTIWA PENYELAMATAN"
    1. Konsep "Alkitab = Kesaksian" tidak membuktikan kedefinitifan kanon Alkitab
    2. Konsep tentang rentetan "peristiwa penyelamatan" mempersempit lapangan karya Allah dalam sejarah atau dunia
    3. Status Alkitab sebagai sumber historis tidak menjamin kewibawaannya sebagai norma teologis
      1. "Kewibawaan sumber sejarah" lain dan pada "kewibawaan norma teologis"
      2. Kadang-kadang ada jarak-waktu antara peristiwa dan laporan
      3. Bahan dapat digeser dari statusnya sebagai sumber yang utama atau unik
      4. Ada bahan sekunder dalam Alkitab
      5. Kesimpulan
    4. Nisbah antara peristiwa dan penafsirannya
      1. Tiga jenis "peristiwa"
        1. Karya Allah melalui tindakan manusia-agen/pelaku
        2. Peristiwa berupa "mujijat"
        3. "Peristiwa" yang bersifat legenda
      2. Kekaburan dalam pemakaian istilah "karya penyelamatan"
        1. Karya Allah yang obyektif? atau "Pola pemikiran yang memakai konsep "Allah berkarya/bertindak, berbuat"?
        2. Hubungan "Karya Allah" dengan bahan legenda
        3. Titik-titik persamaan antara "peristiwa-penyelamatan" dan "mitos-dasar"
    5. Konsep "peristiwa penyelamatan" dan penentuan skriptura
    6. Konsep "peristiwa penyelamatan" tidak membuktikan kedefinitifan kanon
      1. Banyak bahan Alkitab yang bukan laporan peristiwa
      2. Ada tafsiran-tafsiran alternatif tentang peristiwa-peristiwa tersebut, disamping tafsiran Alkitabiah
      3. Bukan "peristiwa beserta penafsirannya" yang merupakan norma, melainkan teologia Alkitab
      4. Argumentasi tentang "peristiwa-peristiwa penyelamatan" bersifat a priori
  4. KESIMPULAN

PASAL VI. PERANAN ALKITAB DALAM BIDANG TEOLOGIA

  1. TEOLOGIA ALKITAB SEBAGAI TEOLOGIA STANDARD
    1. Alkitab mengandung unsur teologia
      1. Alkitab tidak merupakan text-book dogma
      2. Alkitab bukanlah hanya "bahan agamawi"
      3. Teologia explisit dan implisit dalam Alkitab
    2. Pusat perhatian beralih dari "Alkitab sebagai sumber keterangan" kepada "cara-pemikiran pengarang Alkitab"
    3. Nisbah antara teologia dan rekonstruksi sejarah
      1. Hubungan antara laporan peristiwa-peristiwa Alkitabiah, dan cara-pemikiran pengarang Alkitab
      2. Motivasi baru dalam usaha merekonstruksikan peristiwa-peristiwa Alkitabiah
    4. Apakah teologia wajib dibangun atas dasar Alkitabiah?
      1. Pendirian mazhab neo-orthodox
      2. "Kewibawaan" dan kebebasan pemikiran falsafi
    5. Berbagai kemungkinan tentang bentuk atau kerangkaian teologis
    6. Teologia sebagai perumusan iman Kristen dalam bahasa dan kategori-kategori pemikiran modern
    7. Pengenaan norma (Alkitab) dalam proses berteologia
    8. Hubungan hermeneutis antara skriptura dan teologia
      1. Metoda penafsiran ditentukan oleh Alkitab sendiri
      2. Alkitab sebagai "mahkamah tertinggi"
      3. Interaksi bolak-balik antara Alkitab dan metoda penafsiran
    9. "Kekhasan" pola-pola pemikiran Alkitabiah
      1. "Kekhasan" itu relatif
      2. "Kekhasan" dan perbandingan agama
      3. "Kekhasan" dan Kanon
    10. Keseluruhan Alkitab dan bagian-bagiannya
      1. Kewibawaan itu terletak dalam keseluruhan Alkitab
      2. Kekhasan tiap-tiap bagian Alkitab
      3. "Kesatuan Alkitab" bukan landasan, melainkan sasaran
    11. Pemakaian Alkitab secara "agamawi" dan relevansinya untuk teologia
      1. Penjelasan David Kelsey
      2. Pembahasan penjelasan Kelsey
        1. Pengaruh-agamawi skriptura
        2. Pandangan-pandangan agamawi perlu disoroti secara kritis
      3. Contoh-kesimpulan
  2. BEBERAPA POLA TENTANG PENGARUH ALKITAB TERHADAP TEOLOGIA
    1. Penggolongan cara-cara pemakaian Alkitab dalam argumentasi, menurut "pola-pola logis"
    2. Penggolongan menurut konteks-konteks aktual di mana Alkitab dipakai
      1. Konteks teologia
      2. Konteks etika
      3. Konteks prakteka
    3. Penggolongan menurut isi bahan Alkitab
      1. Rumusan-rumusan teologis dan non-teologis
      2. Rumusan-rumusan yang berdasarkan pengetahuan-langsung, dan yang bukan demikian
      3. Pembedaan maksud-umum dan detail-detail perõkop
      4. Pembedaan inti-maknawi perikop dan bentuk-lahiriahnya
      5. Pembedaan "ipsissima verba" Allah atau Yesus dan FirmanNya yang dilaporkan
        1. Ipsissima verba Yesus dalam penyorotan kritik-historis
        2. Patutkah ipsissima verba Yesus mendapat prioritas?
          1. "Patut"
          2. Tidak patut
          3. Posisi menengah
        3. Nisbah antara ipsissima verba dan pribadi Yesus
          1. Ipsissima verba mempunyai kewibawaan yang khas
          2. Hubungan pengajaran dan pribadi atau karya Yesus
          3. Keunikan Yesus terletak dalam hubungan antara pengajaranNya dalam pengalaman-hidupNya
        4. Pembedaan antara "Firman Tuhan" dan "sabda Paulus" dalam surat-surat kiriman
        5. Kesimpulan: Keutamaan ipsissima verba tidak perlu dimutlakkan
  3. PENUTUP
    1. Analisa C.D. Kaufman
    2. Perlunya suatu penjelasan logis-akaliah tentang status Alkitab dalam gereja

PASAL VII. DASAR UNTUK MEMBANGUN

  1. FAKTOR-FAKTOR SITUASI MASA KINI BERKENAAN DENGAN MASALAH STATUS ALKITAB
    1. Hambatan-hambatan terhadap pemakaian: Alkitab secara lebih luas di gereja masa kini
    2. "Neurosis kewibawaan" sudah mereda
    3. Norma-teologis bukanlah titik-tolak proses, melainkan buah proses berteologia
    4. Teologia-modern bersifat majemuk
    5. Konteks-oikumenis teologia modern
  2. PRINSIP-PRINSIP DASAR TENTANG STATUS ALKITAB DALAM TEOLOGIA MODERN
    1. Masalah struktur atau dasar teologia dianggap persoalan terbuka
    2. Dua pra-syarat dalam menyusun teologia yang khas Kristen
    3. Status Alkitab adalah implisit dalam struktur agama Kristen atau Yahudi
  3. PROSES PEMBENTUKAN SKRIPTURA
    1. "Pola-klasik" merupakan buah proses pertumbuhan tradisi
    2. Akibat-akibat terbentuknya skriptura
      1. Pembekuan tradisi
      2. Penyempitan tradisi
      3. Lahirnya tradisi lisan di samping skriptura
      4. Munculnya masalah kanon
    3. Bertahannya proses pembentukan skriptura
      1. Pengertian kita didasarkan atas peninjauan terhadap proses yang sudah selesai
      2. Pertautan periode-Alkitabiah dan periode post-Alkitabiah
      3. Tradisi semakin merupakan penafsiran skriptura
  4. PENGARUH PROSES PEMBENTUKAN SKRIPTURA TERHADAP STATUS ALKITAB
    1. Prinsip-prinsip umum
      1. Status Alkitab berlandaskan keputusan sejarah
      2. Alkitab sebagai "pola-klasik" iman-keagamaan Kristen atau Yahudi
    2. Pokok-pokok yang mendetail
      1. Mutu-kesusasteraan Alkitab
      2. Pembentukan skriptura adalah proses manusiawi
      3. Unsur ketak-sempurnaan dan distorsi dalam Alkitab
      4. Hubungan konsep "penyataan" dan konsep "pola-klasik"
      5. Alkitab sebagai "sabda Israel" atau "sabda tokoh-tokoh gereja-awal"
      6. Hubungan "pola-klasik" dan berakhirnya proses penyataan
        1. "Kristus menjadi puncak proses penyataan"
        2. Beberapa kejanggalan dalam konsep "puncak penyataan" itu
          1. "Peristiwa Kristus" bukanlah "puncak" melainkan penyataan unik
          2. Obyektivitas atau historisitas Yesus, dibandingkan dengan "peristiwa-peristiwa penyataan" yang mendahuluiNya
          3. Jurang yang tak dapat dijembatani antara tradisi dan "peristiwa-peristiwa penyataan" yang melandasi tradisi
        3. Pendekatan "eskatologis": Alkitab bukanlah hasil proses, melainkan landasan proses penyataan
      7. Pandangan Alkitab sendiri tentang status Alkitab
      8. "Penyataan berbentuk pengalimatan" dan "penyataan perorangan"
        1. "Penyataan Diri Allah" dan status-logis pengalimatan Alkitab perlulah dibedakan
        2. Pemisahan yang salah
        3. Penyerangan-penyerangan terhadap konsep "penyataan berbentuk rumusan-rumusan informatoris"
          1. "Rumusan informatoris" dianggap identik dengan "kebenaran abadi"
          2. "Rumusan informatoris" dianggap identik dengan "rumusan abstrak"
        4. Masalah pokok: fungsi "rumusan-rumusan informatoris" yang sebenarnya
        5. "Penyataan berbentuk pengalimatan" dan fundamentalisme
        6. Kesimpulan
      9. Nisbah skriptura dan tradisi
        1. Pengertian Katholik: skriptura dan tradisi saling melengkapi
        2. Pengertian Protestan: tradisi dapat menyeleweng
        3. Pengertian modern: Baik skriptura maupun tradisi mengandung ketidak-sempurnaan
        4. Untung-ruginya pembekuan/membekukan tradisi menjadi skriptura
      10. Efek-efek negatif ide "kewibawaan Alkitab"
        1. Kesembronoan dalam menafsir
        2. Legalisme Alkitab
        3. Penyamaan pandangan pribadi dengan pandangan Alkitab
      11. Alkitab perlu dibaca secara kritis, karena mengandung unsur distorsi
      12. Masalah "pengilhaman tradisi"
        1. Pembentukan tradisi atau skriptura sebagai akibat samping dari tugas-kepemimpinan
        2. Allah menyertai pemimpin "melalui RohNya"
          1. Roh menerangkan makna penyertaan Allah itu
          2. Roh mendampingi reflexi dan karya manusia

PASAL VIII. TEOLOGIA DAN PENAFSIRAN

  1. PEMIKIRAN TEOLOGIS HARUS BERSIFAT KONSTRUKTIF
    1. Bahan-bahan yang dimanfaatkan dalam menyusun teologia: Alkitabiah dan non-Alkitabiah
      1. Bahan teologia yang implisit dalam Alkitab perlu dirangkaikan
      2. Keaneka-ragaman bahan Alkitab menuntut penyeleksian dan pengaturan
      3. Penyusun teologia patutlah memanfaatkan bahan Alkitab secara kritis
      4. Peranan kredo-kredo dalam penyusunan teologia
    2. Peranan "teologia-teologia Alkitabiah" dalam proses penyusunan teologia yang menyeluruh
    3. Unsur-unsur falsafi dan Alkitabiah saling melengkapi
  2. PERANAN ALKITAB DALAM HOMILETIKA
    1. Alkitab menjadi "pola-klasik" dalam pelaksanaan tugas homiletik
    2. Keutamaan "mitos-dasar" atas "kerangkaian teologia" dalam pengkhotbahan
    3. Pemanfaatan distorsi-distorsi Alkitab dalam pengkhotbahan
    4. Perlukah khotbah berlandaskan Alkitab?
      1. Pada prinsipnya, sebaiknyalah demikian
      2. Bahan Alkitabiah dalam liturgi itu perlu diuraikan dalam khotbah
      3. Dalam uraian berdasarkan situasi kontemporer, dasar Alkitabiah adalah implisit
      4. Kemajemukan metoda homiletik sejajar dengan kemajemukan corak teologia
      5. Dua pertimbangan praktis mengenai uraian-uraian berdasarkan situasi kontemporer
        1. Kesan "imperialisme kristiani (kristen)" perlu dicegah
        2. Kesanggupan atau bakat pengkhotbah perlu dipertimbangkan
  3. PENERAPAN BAHAN KUNA KEPADA JAMAN MODERN
    1. Relevansi Alkitab untuk manusia modern
      1. Kekunaan Alkitab
      2. Alkitab tidak langsung relevan, melainkan membangun iman yang relevan
      3. Hubungan konsep "relevansi Alkitab" dan konsep "Alkitab sebagai buku referensi"
      4. Alkitab: dokumen kuna yang ditangani manusia modern
    2. Masa lampau - masa kini - masa depan
      1. Ditekankannya "kenormatifan Alkitab" menempatkan norma gereja di masa lampau
      2. Pengambilan keputusan berlangsung pada masa kini
      3. Penggenapan perjanjian-perjanjian Alkitab terletak di masa depan
    3. Konsep "penyataan progresif"
      1. Pendefinisian istilah
      2. Beberapa ciri-negatif konsep "penyataan progresif"
        1. Ditekankannya "puncak-puncak" penyataan Alkitabiah
        2. Pemakaian konsep secara apologetis
        3. Penerapan konsep secara selektif
      3. Segi-segi positif konsep "penyataan progresif"
  4. KEORTHODOXAN DAN KEBIDATAN
    1. Alkitab sebagai "standard keorthodoxan"
    2. Pergumulan-teologis yang tergambar dalam Alkitab
    3. Teologia dan "anti-teologia" dalam Alkitab
    4. Sumbangan antiteologia-antiteologia kepada teologia-teologia Alkitab

PASAL IX. PEMBATASAN DAN PENYELEKSIAN

  1. PENDAHULUAN
  2. PEMBENTUKAN DAN PEMBATASAN-JUMLAH KITAB-KITAB DALAM ALKITAB
    1. Latarbelakang pembentukan kanon
      1. Cara-cara pengolahan bahan, sampai menjadi kitab-kitab definitif
      2. Flexibilitas yang mula-mula dalam daftar kitab-kitab definitif
      3. Kitab-kitab Apokrif
        1. Batas-batas kategori "Apokrif"
        2. Tiga cara penurun-alihan kitab-kitab Apokrif
    2. Masalah-masslah pokok
      1. Pertautan kategori "kanonik" dan "apokrif"
      2. Unsur kebetulan dalam penentuan batas-batas kanon tidaklah menjadi soal
      3. Bolehkah gereja mengubah kanon?
      4. Perbedaan konsep "skriptura" dan konsep "kanon"
    3. Kesimpulan
  3. PENYELEKSIAN DAN PENGATURAN BAHAN ALKITAB SECARA INTERN
    1. Pengaruh tradisi gerejani atau akademis terhadap penilaian dan penafsiran bahan Alkitabiah
    2. Ketidak-rataan bahan-bahan Alkitabiah
    3. Pengakuan-iman-pengakuan-iman sebagai sarana pengaturan bahan Alkitabiah
    4. Usaha "teologia Alkitabiah" untuk mengatur bahan Alkitab
      1. Usaha mencari "teologia-inti" yang disodorkan oleh Alkitab sendiri
      2. Kesulitan-kesulitan yang menghambat usaha tersebut
      3. Hasil positif yang dicapai melalui usaha itu
    5. Pengutamaan tema-tema tertentu dalam Alkitab
    6. "Kanon-inti" dan "bahan-inti"
      1. Pendefinisian istilah-istilah
      2. Keberatan-keberatan terhadap konsep-konsep tersebut
      3. "Tema-tema inti" tak boleh diutamakan secara permanen
      4. "Tema-tema inti" tak boleh dikecualikan dari penyorotan kritis
  4. "Titik-titik penyambung"
    1. "Titik-titik penyambung" boleh bersifat Alkitabiah atau nonAlkitabiah
    2. Adanya "Titik-titik penyambung" tidak menghambat proses penyeleksian dan pengaturan
  5. Pengaruh kritik-historis terhadap proses penyeleksian
    1. Kemajemukan lapis-lapis bahan Alkitabiah
    2. Penafsiran lapis-lapis tersebut
    3. Keutamaan teks-definitif
  6. Nisbah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
    1. Kecenderungan modern untuk menurunkan derajat Perjanjian Lama
    2. Kaitan kecenderungan tersebut dengan sikap "fundamentalis"
    3. Pada prinsipnya, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sederajat, dan berdiri sendiri-sendiri
    4. Perbedaan fungsi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
    5. "Allahnya Israel" dan "Yesus dari Nazaret"
    6. Apakah sepatutnya riwayat Yesus dihisabkan kepada Perjanjian Baru atau kepada Perjanjian Lama?

PASAL X. KATA DAN MAKNA, HURUF DAN ROH

  1. PENAFSIRAN HARFIAH
    1. "Harfiah" tidak identik dengan "fundamentalis"
      1. Fundamentalisme lebih mementingkan ketak-mungkinan-salah daripada keharfiahan
      2. Fundamentalisme melawan kritik-sumber-sumber Alkitabiah, yang berakar dalam pendekatan harfiah
    2. Penafsiran harfiah yang langsung menyelidiki obyek-obyek yang disinggung dalam nats (Sudut A dalam segitiga)
      1. "Harfiah" lawan "alegoris"
      2. "Harfiah" berarti "mendetail"
      3. Dua catatan tambahan
        1. Alegori juga sering terikat kepada detail-detail nats
        2. Alasan-alasan memilih pendekatan harfiah atau non-harfiah
    3. Pendekatan harfiah, bila Alkitab dianggap naskah-teologia kesusasteraan (Sudut B dan C dalam segitiga)
      1. Bentuk-harfiah nats membuka pengertian tentang latar belakang atau pemikiran pengarang
      2. Ditekankannya "pemikiran pengarang" meningkatkan peranan detail-detail nats
      3. Detail-detail menyõnggung pemikiran pengarang secara langsung, dan menyinggung obyek nats secara tidak-langsung
    4. Masalah pokok bukanlah "penafsiran harfiah" melainkan "penafsiran yang mendetail"
      1. Keuntungan-keuntungan dalam penafsiran yang mendetail
        1. Ciri-ciri tiap pengarang mendapat perhatian
        2. Kemajemukan lapis-tradisi mendapat perhatian
        3. Keanekaragaman bahan Alkitab menjadi sumber makanan rohani
        4. Kesimpulan-kesimpulan umum sepatutnyalah berdasarkan pembahasan detail-detail
        5. Pembedaan detail yang bermakna dan detail yang kurang
      2. Alkitab tidak mengutarakan
      3. Pembahasan prinsip: "Huruf mematikan, roh menghidupkan"
      4. Kesimpulan: "rumusan-kalamiah" tidak bertentangan dengan "makna"
  2. KESIMPULAN UMUM
    1. Keilhaman: Skriptura diilhamkan, namun berstatus "mungkin salah" juga
    2. Firman Allah: Alkitab adalah kristalisasi tradisi umat Allah dan sarana penyampaian Firman Allah
    3. Kewibawaan: konsep kewibawaan kurang sesuai dengan cara berfungsinya struktur teologia modern
    4. Fungsi: Konsep fungsi dapat membina saling-pengertian, dan sesuai juga dengan kemajemukan teologia modern
    5. Landasan Kesatuan Alkitab

CATATAN KAKI



Alkitab di Dunia Modern
(The Bible in the Modern World)
Prof. James Barr
Terjemahan Dr. I.J. Cairns
BPK/8331086/7
Penerbit BPK Gunung Mulia, 1979
Kwitang 22, Jakarta Pusat

sumber :media.isnet.org

BERITA DAN REFLEKSI




  1. CERAMAH AKHIR TAHUN HIJRIYAH 1429

  2. RENUNGAN 1 MUHARRAM 1430 H

  3. Refleksi Ibadah Haji Penangkal Jeratan Sistem Dajj…

  4. Teologi Apologetik dalam Membaca “Kitab Suci”

  5. Memilih Pemimpin

  6. "Dualisme"

  7. Propaganda ”Lintas Agama” yang Kian Canggih

  8. SEMANGAT BARAT

  9. Ribuan Manuskrip Islam Kuno Tersimpan di Perpustakaan...

  10. Invasi Gaza:"Operasi Cast Lead", bagian Dari Sebuah konpirasi...

  11. Antara Kebenaran dan “Pembenaran”

  12. "Kaum Yahudi dan Perusakan Agama”

  13. Inaugurasi Obama, Masonic Bible, dan Obelisk Fir’aun...

  14. Meninjau Kembali Gerakan Religio-Politik Islam [2]...

  15. Meninjau Kembali Gerakan Religio-Politik Islam [1]...

  16. "Tuhan" Filsafat

  17. Mengambil Hikmah Dari Yahudi-Yahudi "Nyeleneh"

  18. Adakah Jarak antara Agama dan Ilmu Pengetahuan? (1)

  19. Kumpulan Artikel M. Syamsi Ali

  20. Virus-Virus Akidah

  21. ZEITGEIST the movie

  22. Penemu Sirkulasi Pernapasan Ibn Al-Nafis atau Harv...

  23. TITIK TEMU ISLAM DAN KRISTEN

  24. Mengapa saya masuk Islam?

  25. Pendahuluan Kuliah Tauhid

  26. TAWHID dan KEMERDEKAAN

  27. SYIRIK dan MUSYRIK

  28. KISAH KETA’ATAN DAN KEMUNGKARAN DALAM AL-QUR’AN;

  29. SEJARAH YANG SELALU BERULANG…

  30. Madu Lebah Obat Luka Akibat Diabetes di Amerika

  31. HAL-HAL YANG MENGURANGI ATAU MERUSAK SIKAP TAUHID

  32. Proyek Rahasia Dibalik Agresi Brutal Israel ke Jalur gaza...

  33. Virus Merah Jambu, Bernama St Valentine

  34. Proyek Isa, Mengajak Muslim Menuju Kristiani

  35. VALENTINE DAY = Hari Raya Pagan Mengenang Pendeta

  36. Didukung Perusahaan Raksasa, Satukan Kekuatan Seba...

  37. Ribuan Media Misi Hadiri Konvensi Media Kristen International...

  38. Gereja Anglikan Inggris Setujui "Kristenisasi"

  39. Presiden Turki: Perpecahan Kelompok Sumber Utama Kekalahan...

  40. Musibah tanggul Situ Gintung

  41. Vatikan akan Boikot Film 'Angels & Demons'

  42. Waspadai Dendeng/Abon Sapi mengandung Babi

  43. Pesan Islam Dalam Game Nintendo, AS Gempar!

  44. Uskup Perancis: Kenapa Masjid Penuh dan Gereja Koson.

  45. Vatikan: Perbankan Barat Harus Melihat Sistem Keua...

  46. Terapi Musik Dalam Peradaban Islam

  47. what is name ?

  48. Orientalism, , kesalahan informasi dan Islam



BERITA MUSLIM

  1. 4 Anak Jombang Jadi Jenius Berkat Hanifida

  2. Syirik: Dari Samiri sampai Ponari

  3. Warga Lebak Temukan Alquran dan Pedang Raksasa

  4. MER-C Usulkan Tangani Pengungsi Rohingya ..

  5. Tim kesehatan dari "Medical Emergency Rescue Commitmen...

  6. Presiden: Indonesia Bisa Jadi Pusat Perbankan Syar...

  7. Muslim Brazil Membangun Institute Imam Dan Da'i

  8. Selamatkan Muslim Rohingya

  9. Manusia Perahu Rohingnya dan Warga Yang Dilupakan

  10. Rohingya, Nestapa Minoritas Muslim Myanmar

  11. Pengungsi Rohingya Enggan Kembali Ke Myanmar

  12. Satu Lagi Perahu Rohingya Berlabuh di Aceh

  13. AS Akhirnya Bersuara Atas Nasib Rohingya

  14. Muslim Korsel Sulit Peroleh Makanan Halal

  15. Ragam Etnis Komunitas Muslim Korea

  16. Muslim India Makin Tercekik Diskriminasi

  17. Muslim India Menentang Penyiksaan

  18. Ribuan Orang Mendesak Sekjen PBB Menyelamatkan Kashmir...

  19. Aksi Hari Solidaritas Kashmir

  20. Komunitas Cina Muslim : Minoritas di Antara Minoritas...

  21. Tuduhan Ekstrimis Bagi Yang Meyakini Iman Islam di Inggris...

  22. Organisasi Muslim AS Ancam Boikot FBI

  23. Temuan Ilmuwan Muslim Indonesia Digunakan oleh NASA...

  24. Inggris Miliki Asuransi Mobil Islam Pertama

  25. Strategi Baru Anti-Teror Inggris Sudutkan Muslim

  26. Dakwah Islam di Penjara-Penjara AS, Banyak Tahanan...

  27. Masjid Geometri Putih Kawasan Urban Bosnia

  28. Suku Indian Cherokee dahulu adalah muslim

  29. Kapolda Beri Hak Jilbab, Media Asing dan Kaum Libera.

  30. Wanita Berjilbab Pimpin Distrik di Belanda

  31. HRW Soal Larangan Jilbab: Jerman Diskriminatif...

  32. Sekolah Bulgaria Larang Jilbab

  33. Norwegia Batalkan Keputusan Pemakaian Aparat Berji...

  34. Jilbab di Kesatuan Polisi Norwegia

  35. Norwegia: Polwan Muslim Boleh Berjilbab

  36. Bilqis, Muslimah Berjilbab Pertama ,bola basket

  37. Tuna Netra Palestina Menemukan Metode Baru .

  38. Jamaah Thawaf, Awan Lafaz Allah Muncul

  39. Sekolah Islam Diterima, Muslim Australia Gembira

  40. Bagaimana Sikap Rakyat Palestina Terhadap Hamas?

  41. Islamic Center di Moskwa Dibuka, Dihadiri Mufti ...

  42. Mujahid Al Qassam "Diselamatkan" Al-Quran

  43. Syekh Zayed, Masjid Terbesar Ketiga di Dunia

  44. Sekolah Islam menjamur di Sacramento

  45. Madrasah Islam di Virginia, Sarana Dakwah Islam di...

  46. Subhanallah, acara Maulid Nabi DI RS Katolik

  47. Filipina Amandemen UU Otonomi Muslim Mindanao

  48. Membangun Lingkungan dan Masa Depan Islam di Amerime.

  49. Fakta Baru, Israel Dalang Serangan 11 September

  50. Muslim Jepang Rindu Bimbingan Agama

  51. Diskriminasi dan Rasisme Terhadap Muslim di Kepolisi.

  52. Ilmuwan Malaysia Ikut Rancang Perluasan Masjidil H...

  53. 1,1 Juta Muslim Italia Ingin Didengar

  54. Keamanan Lebih Parah Bagi Muslim Xinjiang

  55. Kebijakan Memata-matai Kaum Muslim Picu Kemarahan

  56. Proyek perluasan Masjidil haram

  57. Muslim di Filipina Minoritas di Negeri Sendiri

  58. Inggris 'Mengemis' Agar Muslim Perkuat Militer

  59. Islam di Inggris Berkembang dari Kampus

  60. Ratusan Orang Dihalangi untuk Shalat Jumat di Al-Aqs.

  61. CIA Akan Rekrut Intel Muslim

  62. Kepala Babi Di Masjid Lejitkan Ketenaran Partai Na...

  63. Gerakan Muslim Malawi Lawan Kekerasan Domestik


BERITA MUALAF



  1. Muslim di Amerika: Sebuah Perjalanan dalam Pencarian...
  2. Meningkatnya Mahasiswa Muallaf AS Paska Tragedi WTC...
  3. Stephen Schwartz, Jurnalis Amerika yang Bersyahada...
  4. Muslimah Rusia Bangun Masjid dari Kocek Sendiri
  5. Profesor Jeffrey Lang Temukan Hidayah melalui Pera...
  6. Muhammad Abdullah (d/h Alexander Pertz) : Kisah Is...
  7. Vicente Mota Alfaro: Dari Mualaf Sampai Menjadi Im...
  8. Michael: Kebenaran Itu Hanya Ditemukan Dalam Islam...
  9. Tolak Blokade Israel, Mahasiswa Inggris Duduki Kam...
  10. Islam Tumbuh Pesat di Inggris
  11. Kisah Yesus Tingkatkan Muallaf Spanyol!
  12. Alvero, Kisah Seorang Spanyol yang Memeluk Islam
  13. Kaci Starbuck Bangga Jadi Muslimah
  14. Hj Vera Pangka, Ibunya Para Muallaf
  15. Yusuf Islam Donasikan Lagu untuk Gaza
  16. Gadis Islandia itu Temukan Islam di Amerika
  17. Memeluk Islam, Pelukis Rusia Ekspresikan Keimanann...
  18. Jamilah Kolocotronis, Menemukan Cahaya Islam Saat ...
  19. Luna Cohen, Yahudi Maroko Menemukan Kebenaran Isla...
  20. Katlin Hommik Terkesan Puasa Ramadhan
  21. Konsep Trinitas Tak Masuk Akal, Kathryn Memilih Islam...
  22. Saudi: 510 Warga Asing Menyatakan Masuk Islam
  23. Dalam Sehari, 10 WN JEPANG Masuk Islam
  24. 14.200 Warga Kulit Putih Inggris Masuk Islam, Keba...
  25. Erik Meijer: Islam Itu Bisa Diterima Logika
  26. Tiap Tahun 3600 Warga Prancis Masuk Islam
  27. Kyrgyzstan Menjauhkan Anak-Anak Dari Islam
  28. Bantuan ke Jalur Gaza Capai 36 Trilyun
  29. HRW: Larangan Jilbab Mendiskriminasi Wanita Muslim...
  30. Penggalangan Dana Peduli Muslim Rohingya di Arena ...
  31. Selamat dari Kecelakaan Maut, Muslimah Rusia Bangu...
  32. Mengenal Islam Melalui Musik Underground
  33. Aria Desti Kristiana : Kenapa Tuhan Harus Disalib?...
  34. Di AS : Seorang Pendeta Menyatakan Masuk Islam "Di...
  35. Pelaksanaan Ajaran Islam Semakin Meningkat,.
  36. STEVEN KRAUSS
  37. PROFESOR JEFREEY LANG,PROFESOR MATEMATIKA
  38. ALEXANDER PERTZ
  39. VICENTE MOTA ALFARO
  40. MICHAEL DAVID SHAPIRO
  41. STEPEN SCHAWARTZ
  42. ISLAM TUMBUH PESAT DI INGGRIS
  43. KISAH YESUS TINGKATKAN MUALAF DI SPANYOL
  44. EASY ASHBY MEMELUK ISLAM USIA 13 TAHUN
  45. KACI STARBUCK
  46. Hj VERA PANGKA,IBUNYA PARA MUALAF
  47. GADIS ISLANDIA TEMUKAN ISLAM
  48. AL HAJ LORD HEADLY AL FAROOQ
  49. MOHAMMAD ASAD
  50. JOSEPH COHEN ,YAHUDI PINDAH KE ISRAEL MASUK ISLAM
  51. PEMUDA PERANCIS DAPAT HIDAYAH DI INGGRIS
  52. MOHAMMAD ALEXANDER RUSSEL WEBB
  53. SIR JALALUDIN LOUDER BRUNTON
  54. MUHAMMAD AMAN HOBOHN
  55. PROF HAROON MUSTAPA LEON
  56. ALI SELMAN BENOIST
  57. Dr. UMAR ROLF BARON EHRENFEL
  58. Dr. ABDUL KARIM GERMANUS
  59. Dr. HAMID MARCUS
  60. WILLIAM BURCHEL BASYIR PICKARD
  61. KOLONEL DONALD S ROCKWELL
  62. Mr. R.I. MELLEMA
  63. MISS MAS'UDAH STEINMANN
  64. FRIDA T MARAMIS
  65. YUSUF ROGER MARAMIS , Dari Evangelis Menjadi Dai
  66. H. Muhammad Zulkarnaen (d/h Eddy Crayn Hendrik)
  67. THERESIA DELLI SURJARMI
  68. SANDRINA MALAKIANO
  69. RUDY MULYADI FOORSTE S.TH
  70. DUA KALIMAT SYAHADAT MEMBISIK DI TELINGAKU
  71. CHRISTIAN GUSTAV
  72. AMY PEREZ
  73. TORQUATO CARDELLI
  74. TIA 'AFI'
  75. ALICIA
  76. SEORANG WALIKOTA DI AS MEMUTUSKAN MASUK ISLAM
  77. MUHAMAD RAMADHAN (STENDLY DELON)
  78. DARI SEORANG NEO NAZI MENJADI SEORANG MUSLIM
  79. PELATIH SEPAK BOLA ASAL PRANCIS MEMILIH MASUK ISLAM
  80. MIHAI BRESCARO
  81. ESTANISLAO SORIA(MANTAN PENDETA KATHOLIK FILIPHINA)
  82. PAQUITA WIDJAYA
  83. Molly
  84. IVONNE RIDLEY
  85. JESSICA,PUTRI SURIAH
  86. KATHY,WANITA AMERIKA
  87. PENDETA SENIOAR DI AFRIKA
  88. PROF DR HUBERTUS MYNAREK (PASTOR DAN TEOLOG)
  89. CHRISTIAN SCIENE MONITOR
  90. LAKSAMANA TNI (PURN SUDOMO)
  91. SUDOMO :SAYA MURTAD SELAMA 36 TAHUN
  92. OKTO RAHMAT TOBING
  93. KI MANTEP SUDHARSONO
  94. TAN PING SIEN (MUHSIN)
  95. G.M. SUDHARTA
  96. LIEM TJENG LIE
  97. ALEXANDRA GOTTARDO
  98. JIP HENJY JANA P, M.B.A.
  99. H. BURHAN NAPITULU
  100. OEY KIAM TJENG
  101. WS RENDRA
  102. AHMAD IHSAN (LIEM TJOE SAN)
  103. JAW MEI HWA
  104. NAOKO KASAI
  105. MUHAMMAD MU’MIN
  106. ANNA MARCELIA
  107. IRENI (Ny. Han Hoo Lie)
  108. STEFANUS R SUMANGKIR (EX PENDETA)
  109. RAHMAT PURNOMO (EX PENDETA)
  110. HANDOKO EX AKTIFIS GEREJA
  111. KWIK DYIT SOEN
  112. RICHELLE SANTOS,GADIS FILIPHINA
  113. WILLIBORDUS ROMANUS LASIMAN
  114. SYEIKH YUSUF ESTES EX PENGINJIL
  115. AISHA CANLAS
  116. SAYA INGIN MENJADI BAGIAN ORANG ISLAM
  117. KH. Drs. ALIFUDDIN EL ISLAMI (d/h Siong Thiam )
  118. PEREMPUAN JERMAN BERBONDONG-BONDONG MEMELUK ISLAM
  119. AMIRAH BOURABA
  120. PEMUDA ARGENTINA TEMUKAN ISLAM LEWAT INTERNET
  121. Ayesha
  122. GADIS KOLOMBIA BERSYAHADAH LEWAT INTERNET
  123. "JORDIE ROSENBAUM,PUTRI YAHUDI”
  124. BRITNEY SPEARS
  125. RUQAYYAH WARIS MAQSOOD
  126. GADIS AMERIKA BERSYAHADAH DI BIS KOTA
  127. MARGARITA
  128. Dr YAHYA YOPIE WALONI
  129. MICHAEL JAKSON
  130. DELANCE ,PERJALANAN SPIRITUAL
  131. MARMADUKE PICKTHALL
  132. SARA BOKKET,MANTAN MODEL
  133. AMIRA MAYORGA
  134. PENDETA KATHOLIK FILIPHINA YANG MENEMUKAN ISLAM
  135. MASUK ISLAM KARENA IKLAN BUS
  136. MUALAF LATIN DI AMERIKA
  137. ANAKKU DIRAMPAS KARENA “AKU MEMILIH ISLAM”
  138. TERTARIK KONSEP KETUHANAN
  139. HIDAYAH TAK KENAL WARNA,BANGSA DAN MASA
  140. PENGACARA YAHUDI PELUK ISLAM SETELAH 9/11
  141. DIANGGAP GILA SETELAH MENEMUKAN ISLAM
  142. TUHAN TELAH MEMILIKAN SAYA
  143. AKU BAHAGIA DIDALAM ISLAM
  144. ISLAM BUKAN TERORIS
  145. TERBIMBING MENUJU ISLAM
  146. OH TUHAN,TUNJUKANLAG BAGAIMANA AKU,MENEMUKANMU
  147. BERANJAK DARI TITIK NOL
  148. BERAWAL DARI BENCI BERAKHIR DENGAN CINTA
  149. Kisah Pemuda Yahudi –menemukan Islam di Internet

  150. Wajah baru Islam

  151. Ribuan orang Terkemuka di Inggris ke pelukan Islam

  152. Mualaf berbicara tentang bagaimana menegakkan Islam

  153. Mualaf Rusia memperkenalkan Toleransi didalam Islam

  154. Increasing Number Of Germans Embracing Islam

  155. Orang Katholicyang beralih ke agama Islam meningkat

  156. Beberapa nasehat untuk Mualaf baru

  157. A CATHOLIC NUN:BAD EXPERINCE BUT BEATIFUL END

  158. Hungarian Convert to Islam: Sultan

  159. Khadega Pihan dari Jerman

  160. MUSLIMS AUSTRIA: THE EARLY RECOGNITION OF RELIG...

  161. Muslim Mualaf dokuomentasi Texas

  162. Perjalananku menuju Islam

  163. Iman (Monica) Aparicio dari Kristen ke Islam

  164. 73 Year old Italian Man and His Wife Convert to Is...

  165. Ibrahim Karlsson

  166. Christopher Shelton

  167. Lady Evelyn Zeinab Cobbold

  168. Rob Wicks

  169. Yahiye Adam Gadahn

  170. Cinta tak terbatas untuk sebuah pujian

  171. Shalawat untuk Muhammad Mustafa saw

  172. Indian Nobel Prize Nominee Embraces Islam

  173. Iman from Italy finds Islam

  174. A French Doctor of Medicine Narrates his Adherence...

  175. A Different Childhood

  176. Sir Abdullah Archibald Hamilton (England)

  177. Muhammad Aman Hobohm (Germany)

  178. Thomas Irving (Canada)

  179. Mavis B. Jolly (England)

  180. Miss Fatima Kazue (Japan)

  181. professor Haroon Mustapha Leon

  182. American Muslims Growing in Number Rapidly After...

  183. DISCOVERING ISLAM: A CANADIAN MUSLIMA'S STORY

  184. DISCOVERING ISLAM: A CANADIAN MUSLIMA'S STORY

  185. Karima Slack Razi

  186. Jewellee

  187. HEADLINE : WHY I CHOSE ISLAM, BY BRIDE JEMIMA

  188. C. Huda Dodge : My Path To Islam

  189. Afrah Alshaibani : Becoming Muslim

  190. Testimony of Ahmed Corpus (Formerly Marco Corpus)

  191. Dr. ALI SELMAN BENOIST

  192. Christopher Patrick Nelson : Islam Saved My Mental...

  193. FAUZUDDIN AHMAD OVERING

  194. CNN News: 1.5 Million Americans coverted to ISLAM ...

  195. NBC NEWS: 20000 Americans Convert To ISLAM Each Ye...

  196. Africa, the first refuge for Muslims

  197. List of converts to Islam from Dharmic religions a...

  198. List of converts to Islam from Judaism

  199. List of converts to Islam from Christianty

  200. 'Allah came knocking at my heart'

  201. Testimony of Ihsan Chua Gim Sam

  202. The Best Speech is the Speech of Allah,And the Bes...

  203. John Kirch, USA, "I went on a 20-year-long search ...

  204. Have you ever wondered what the name Tallahassee m...

  205. Abdul Hakeem Heinz: Islam Eventually Entered My He...

  206. MAVIS B. JOLLY, The Qur'an, I found, works silentl...

  207. Mike LoPrete, USA, 19 year old college student. "...

  208. My Conversion to Islam

  209. Sherif Quinn,Christianity: The Point of Departure

  210. Shive Prasad Demolished Babri Masjid That Day -

  211. TIM WEIS, I have European lineage. I am a Muslim. ...

  212. Walter 'Abdul-Walee' Gomez

  213. The Story of a Jewish Boy - Finding Islam in Cyber...

  214. Kimi from australian

  215. Tasha, I had been studying Islam ever since I was ...

  216. Finding My Way….Lynette Wehner's conversion to Isl...

  217. The conversation to Islam of (Yahya) Donald W. Flo...

  218. How We Came To Embrace Islam

  219. Somayyah, From a Bathing Suit to Hijab.

  220. God works in mysterious ways

  221. Rashida S. (Rachel Singer) daughter of a devout Ro...

  222. Jocelyn Wiener, Times Staff Writer. Young, Female ...

  223. InNoor's Testimony: sights into Women in Islam vs....

  224. ,Nakata Khaula,A Japanese Woman's Experience of Hi...

  225. Michelle, "I came from a Jewish family in New Yor...

  226. Maureen McCormick, Life is good for Muslim women

  227. Maryam Jameelah, Converts' Stories: Interview with...

  228. Maryam al-Mahdayah, There is no more conflict w...

  229. Madonna Johnson "..all of my turmoil and anxiety ...

  230. Dr. Kari Ann Owen.USA, Jewish, "I began to look .....

  231. Karen's Testimony. "If Jesus is God, then why did ...

  232. Haji Maryam Mohammed Ahmed, American Muslima, She ...

  233. Chahida Zanabi, Norway, "..i found [a belief that ...

  234. Asiya Abd al-Zahir,Australia, "..the only religion...

  235. Aminah Assilmi "I couldn't be a Muslim! I was Ame...

  236. Yvonne Ridley In the Hands of the Taliban: From C...

  237. Yusuf Islam (Formerly Cat Stevens) Famous ex-Roc...

  238. Wilfried (Murad) Hofmann, German Diplomat And NATO...

  239. PROF. UMAR MITA, Economist, Social Worker and Pre...

  240. Nuh Ha Mim Keller, From an American Catholic to on...

  241. Leopold Weiss,Statesman, Journalist, Author, and t...

  242. Muhammad Ali

  243. Dr. Maurice Bucaille,The author of: "The Quran and...

  244. Michael Wolfe

  245. Malcolm X - In His Own Words

  246. A Confession by Leo Tolstoy

  247. Kareem Abdul-Jabbar

  248. Johann Wolfgang v. Goethe Embraced Islam

  249. Jemima Goldsmith : Why I chose Islam, by bride Jem...

  250. Jermaine Jackson

  251. Dr. Jeffrey Lang

  252. German Pop Singer Finds Destination in Islam

  253. Lord Headley Al-Farooq (England)

  254. Hamza Yusuf (Mark Hanson)

  255. Lady Evelyn Zeinab Cobbold

  256. Dileep Kumar, Leaving Celebrity Status Behind

  257. Dr. Abu Ameenah Bilal Philips

  258. Testimony of Abdur-Raheem Greene (Formerly Anthony...

  259. Dr. Yahya A.R. Lehmann,(Former Roman Catholic Prie...

  260. Viacheslav Polosin - Former Archpriest of the Russ...

  261. S.M. SULAYMAN,(Former Baptist Church Minister), U....

  262. Selma A. Cook,An Australian Missionary’s Journey t...

  263. Ruba Qewar, Jordanian Missionary reverts to Islam

  264. Raphael Narbaez, Jr. ,From the Watchtower to the M...

  265. Rabbi Moisha Krivitsky of Makhachkala synagogue e...

  266. Muslima,The Former Catholic Missionary (Burundi)

  267. Khadijah 'Sue' Watson - Former pastor, missionary,...

  268. Ibrahim Khalil - Former Egyptian Coptic priest

  269. George Anthony - Former Catholic priest

  270. Dr. Gary Miller (Abdul-Ahad Omar) - Former mission...

  271. Anselm Tormeeda - 14th century CE scholar and prie...

  272. Anonymous Female Missionary Former Catholic missio...

  273. Abdullah al-Faruq - Formerly Kenneth L. Jenkins,

  274. Martin John Mwaipopo

  275. George Anthony - Former Catholic priest

  276. Drs. Alifuddin El-Islamy (d/h Siong Thiam ) :

  277. Cardinal Abu Ishaq

  278. Prof. Abdul Ahad Dawud

  279. Dr. Jerald F. Dirks

  280. Long journey toward Islam, a Muslim American

  281. Aisha Canlas, Peaceful Feeling Hearing Voices Adzan...

Download

    1. ebook : Masalah dan solusi (Shakwaa wa Hulul)

    2. Perlakuan terhadap minoritas menurut Kristen dan Islam

    3. Kisah perjalanan dari Kristen ISLAM

    4. Muhammad Saw dari A sampai Z

    5. Referensi Web Dunia : Quran Mp3

    6. Free ebook : Al-Quran dan Ilmu Astronomi

    7. Saya menyeru kepada Wanita dimana rasa malumu,Saudaraku?

    8. Tafsir Kalimat Tauhid

    9. Perjalanan Mencari Kebenaran (indonesia)

    10. Status Yesus didalam Islam

    11. download :Islamic CGI Scripts

    12. FREE EBOOK FROM pakdenono.com

    13. Download Al Quran dengan terjemahan bahasa urdu (1)

    14. download : E-Hadith Software E-book 2.0.1

    15. Screensaver Islami “ keajaiban Al qur’an

    16. download : INDAHNYA ISLAM KITA

    17. download : Muslim Explorer 2007

    18. Download : Software 1.0 Hadist

    19. download book : Wanita Dalam Pandangan Islam

    20. Kisah-Kisah para Nabi

    21. Cyber Salat

    22. Pentingnya sebuah hak

    23. Bacaan Al Quran : Abd AlWADOOD Haneef

    24. Islamic Screen Savers Downloads

    25. Divine Islam Software

    26. Internet Islamic Tools Downloads

    27. Hadith Downloads

    28. Quran Downloads

    29. Download : Piagam Madinah (language bahasa indones...

    30. HOLY QURAN - Chapter Wise - Beautifully Compiled

    31. Siapkah Kamu untuk Islam?

    32. Pertanyaan mu dan jawaban Al qur’an

    33. Islam – Jawaban kepada Non muslim

    34. Translation of the meaning of the Holy Quran

    35. Quran recitation by Sa'ad al-Ghamdi in MP3 format

    36. Arabic/English Quran in searchable (only English)




Arsip Blog

Gratis Download Ebook,Mp3 dan Software Islam's Fan Box